Tuesday, November 22, 2016

Info Astronomy Tanggal 22 November 2016

Posted: 21 Nov 2016 03:50 PM PST
Galaksi satelit Bimasakti, Awan Magellan Besar. Kredit: Martin Marthadinata
Info Astronomy - Menggunakan Teleskop Subaru di Jepang, sekelompok astronom telah berhasil menemukan galaksi satelit baru yang mengitari galaksi kita, Bimasakti. Menurut laporan penelitiannya, galaksi satelit ini merupakan pendamping Bimasakti paling redup yang pernah ditemukan.

Galaksi yang disebut Virgo I ini resmi bergabung dengan sekitar 50 galaksi satelit kerdil yang diketahui mengorbit galaksi kita. Terletak 280.000 tahun cahaya dengan diameter 124 tahun cahaya, galaksi Virgo I ini bahkan lebih kecil untuk disebut sebuah galaksi kerdil. Sebagai perbandingan, Bimasakti memiliki diameter 100.000 tahun cahaya.

Galaksi Virgo I ini juga tampak 1,5 miliar kali lebih redup dari pada galaksi kerdil Awan Magellan Besar, galaksi satelit terbesar yang mengorbit galaksi kita. Galaksi Virgo I ini juga memiliki magnitudo mutlak yang hanya -0.8, sehingga 1,6 kali lebih redup dari Matahari kita.

Letak galaksi satelit Virgo I. Kredit: Tohoku University, Subaru
Dilaporkan dalam sebuah penelitian di Astrophysical Journal, penemuan ini menunjukkan bahwa Virgo I mungkin baru merupakan galaksi pengiring Bimasakti pertama dari banyak galaksi-galaksi kecil dan redup lainnya yang belum kita ketahui keberadannya.

"Penemuan ini menunjukkan bahwa mungkin ada ratusan satelit kerdil redup lainnya yang menunggu untuk ditemukan," tulis penulis senior Masashi Chiba, dari Tohoku University, dalam makalah penelitiannya. "Berapa banyak satelit yang mengorbit Bimasakti akan memberi kita petunjuk penting untuk memahami bagaimana galaksi kita terbentuk dan bagaimana materi gelap berkontribusi untuk itu."
Posted: 21 Nov 2016 03:27 PM PST
Gugus galaksi Abel 1689 yang menjadi lensa gravitasi bagi objek latar belakangnya. Kredit: NASA/ESA/Hubble
Info Astronomy - Sekelompok astronom yang dipimpin oleh astronom dari Universitas California untuk pertama kalinya berhasil menemukan populasi besar galaksi kerdil di alam semesta awal yang bisa mengungkapkan rincian penting tentang masa produktif pembentukan bintang miliaran tahun yang lalu.

Temuan yang diterbitkan dalamThe Astrophysical Journal ini telah semakin menambah banyak pengetahuan umat manusia tentang galaksi kerdil, galaksi terkecil dan paling redup di alam semesta. Tapi meskipun kecil, mereka sangat penting untuk memahami sejarah alam semesta kita, lho!

Para astronom meyakini bahwa galaksi kerdil memainkan peran penting selama era reionisasi dalam mengubah alam semesta awal dari yang gelap, netral, dan buram ke alam semesta yang terang, terionisasi, dan transparan.

Meskipun penting, galaksi kerdil yang berada di alam semesta awal seperti temuan ini masih tetap sulit dipahami, karena mereka sangat samar dan berada di luar jangkauan pengamatan teleskop terbaik yang kita miliki saat ini.

Namun begitu, para astronom lantas tidak diam saja dan pasrah akan keadaan karena tidak bisa mengamatinya. Karena ada teknik tertentu untuk melampaui keterbatasan ini. Seperti yang diramalkan oleh teori relativitas umum Einstein, benda masif seperti galaksi dapat bertindak sebagai lensa alami, pembesar cahaya objek yang berada di latar belakangnya.

Fenomena ini dikenal sebagailensa gravitasi, sebuah lensa alami yang terbentuk dari gravitasi besar objek foregroundsehingga objek latar belakang bisa tampak lebih cerah dan lebih besar. Oleh karena itu, "teleskop-teleskop alam" ini dapat memungkinkan kita untuk menemukan objek yang tak terlihat seperti galaksi kerdil yang jauh.

Hal itulah yang dilakukan tim astronom ini, mereka menggunakan instrumen Wide Field Camera 3 pada Teleskop Antariksa Hubble untuk mengambil gambar tiga gugus galaksi berbeda, salah satunya Abell 1689. Dari gambar-gambar tadi, mereka lalu berhasil menemukan populasi besar galaksi kerdil yang jauh.

Galaksi-galaksi kerdil tersebut diketahui berada ketika alam semesta masih berusia dua sampai enam miliar tahun. Mengetahui waktu kosmik ini sangat penting untuk mengetahui kapan sebenarnya waktu pembentukan bintang yang paling produktif di alam semesta.

Tak hanya sampai di situ, tim astronom ini juga mengumpulkan dan meneliti data spektroskopi dari instrumenMulti-Object Spectrograph for Infrared Exploration (MOSFIRE) yang terdapat pada Observatorium W.M. Keck, Hawaii untuk mengkonfirmasi keberadaan sejumlah besar galaksi kerdil di alam semesta awal ini.

Dan benar saja, setelah dikonfirmasi, tim astronom ini juga sukses mengetahui bawah galaksi-galaksi kerdil ini ternyata 10 hingga 100 kali lebih redup dari galaksi yang sebelumnya telah diamati selama periode waktu tersebut. Meskipun samar, galaksi ini jauh lebih banyak daripada penemuan sebelumnya.

Penelitian ini menunjukkan bahwa sejumlah galaksi kerdil berevolusi selama periode waktu yang ini sehingga jumlahnya sangat melimpah. Diketahui pula bahwa galaksi kerdil menghasilkan lebih dari setengah dari sinar ultraviolet selama era ini.

Hasil ini menunjukkan bahwa galaksi kerdil memainkan peran penting di era reionisasi. Galaksi-galaksi kerdil ini selanjutnya akan menjadi target utama dari teleskop antariksa generasi berikutnya, terutama James Webb Space Telescope, yang dijadwalkan untuk mulai beroperasi di orbit Bumi pada Oktober 2018.
Posted: 20 Nov 2016 11:48 PM PST
Konjungsi Mars-Saturnus-Antares. Kredit: Martin Mathadinata
Info Astronomy - Tahun 2016 mungkin akan diingat sebagai tahun yang luar biasa di benak para pengamat langit. Bagaimana tidak, tahun ini Indonesia disapa gerhana Matahari total yang sangat berkesan. Lalu, bagaimana dengan tahun 2017?

Sayangnya, tak ada lagi gerhana Matahari, tak ada lagi Supermoon terbesar dalam seabad terakhir. Walau begitu, masih banyak peristiwa langit lainnya yang tak kalah menarik yang bakal menghiasi langit malam kita sepanjang tahun 2017. Penasaran?

Di bawah ini, InfoAstronomy.orgtelah merangkum jadwalnya. Jangan lupa bookmark sebagai kalender astronomi Anda, ya!

4 Januari 2017: Hujan Meteor Quadrantid

Hujan meteor Quadrantid akan menjadi peristiwa hujan meteor pembuka tahun 2017. Setiap tahunnya, hujan meteor ini dapat mencapai intensitas 80 meteor per jam. Hujan meteor Quadrantid sebenarnya terjadi pada rentang tanggal 1-6 Januari, namun mencapai puncaknya pada tangah malam hingga dini hari tangggal 4 Januari. Yang pasti, peristiwa ini bisa diamati di seluruh Indonesia.

4 Januari 2017: Bumi di Perihelion

Bukan, perihelion bukan bahasa latin dari "kiamat". Dalam astronomi, perihelion adalah istilah yang menyatakan jarak terdekat yang dicapai Bumi dalam mengelilingi Matahari. Pada tanggal 4 Januari 2017, jarak Bumi ke Matahari hanya sekitar 0,98 AU, di mana 1 AU setara dengan 150 juta km.

Jarak Bumi dari Matahari bervariasi sekitar 3% karena orbitnya sedikit berbentuk oval, mengikuti jalan yang disebut elips. Dalam prakteknya, variasi ini memang sangat sedikit persentasenya, namun perbedaan jarak antara perihelion dengan aphelion (jarak terjauh Bumi dari Matahari) cukup signifikan.

6 Januari 2017: Komet 45P/Honda-Mrkos-Pajdusakova Makin Terang

Komet 45P/Honda-Mrkos-Pajdusakova diperkirakan akan mencapai puncak kecerlangannya, sekitar magnitudo +6,4, pada 6 Januari 2017 mendatang. Pada saat itu, ia akan berada pada jarak 0,54 AU dari Matahari, dan 0,59 AU dari Bumi. Sayangnya, dari Indonesia, komet ini ternyata akan sedikit sukar untuk diamati. Komet ini akan mencapai titik tertinggi di langit pada siang hari di seluruh wilayah Indonesia, dan akan berada di atas 10° di atas horizon barat pada saat senja.

11 Januari 2017: Planet Merkurius Mencapai Puncak Kecerlangannya

Pada tanggal ini, kita berkesempatan melihat planet Merkurius di langit timur sebelum fajar. Planet terdekat Matahari itu akan mencapai puncak kecerlangannya dengan magnitudo  -2,2. Waktu terbaik untuk mengamatinya adalah 1 jam 34 menit sebelum Matahari terbit. Merkurius akan mencapai ketinggian 16° di atas ufuk timur saat itu.

11 Februari 2017: Gerhana Bulan Penumbra

Akan ada peristiwa langit berupa gerhana Bulan penumbra di tanggal ini, yang sayangnya tidak akan terlihat dari Jakarta karena Bulan sudah berada di bawah horizon barat pada saat puncak gerhana terjadi. Gerhana ini akan berlangsung dari 05:35 sampai 09:54 WIB, dan puncak gerhana akan terjadi pada pukul 07:45 WIB.

17 Februari 2017: Planet Venus Mencapai Puncak Kecerlangannya

Inilah saat terbaik untuk mengamati Venus! Bila Anda pernah melihat objek seperti bintang namun tampak sangat terang, itulah Venus. Planet kedua terdekat dari Matahari ini akan mencapai puncak kecerlangannya pada tanggal ini, ia akan bersinar terang di magnitudo -5,5 Dari Indonesia, Venus sudah terlihat mulai pukul 18:27 WIB, di mana saat itu Venus berada di ketinggian 29° dari atas ufuk barat.

26 Februari 2017: Gerhana Matahari Cincin

Belum bisa move on dari gerhana Matahari total 9 Maret 2016 kemarin? Tenang, peristiwa gerhana Matahari cincin ini akan membuat Anda tambah sulit untuk move on! Pada tanggal ini, Bulan akan melintas di depan wajah Matahari. Tapi karena Bulan berada di jarak terjauh dari Bumi, maka diameter Bulan akan lebih kecil dan terjadilah gerhana cincin.

Sayangnya, gerhana Matahari cincin ini tak terlihat sama sekali di Indonesia. Wilayah-wilayah beruntung yang dapat menyaksikannya adalah Argentina (Matahari 97% tertutup), Cile (97% tertutup), Angola (96% tertutup), Republik Demokratik Kongo (96% tertutup), Zambia (96% tertutup) dan Namibia (92% tertutup).

11 Maret 2017: Komet 2P/Encke Mencapai Puncak Kecerlangannya

Pada tanggal ini, komet 2P/Encke akan mencapai puncak kercerlangannya, yakni sekitar magnitudo +5,9. Pada magnitudo itu, komet masih cukup sulit dilihat dengan mata telanjang, ditambah posisinya yang cukup dekat dengan Matahari. Komet 2P pada tanggal ini akan berada pada jarak 0,34 AU dari Matahari, dan 0,66 AU dari Bumi.

20 Maret 2017: Ekuinoks Maret

Pada tanggal ini, tepatnya pada pukul 17:21 WIB, akan terjadi ekuinoks Maret, yakni peristiwa ketika Matahari berada di atas cakrawala. Menurut definisi astronomi, ekuinoks Maret ini menandai awal musim semi di belahan Bumi utara dan musim gugur di belahan Bumi selatan.

Pada hari ekuinoks, Matahari akan terbit tepat di ufuk timur, lalu berada tepat di atas kepala bagi yang tinggal di garis ekuator, dan akan terbenam tepat di ufuk barat. Pada hari ini juga, kala siang dan malam di Bumi akan sama rata masing-masing 12 jam.

8 April 2017: Oposisi Jupiter

Opsisi Jupiter merupakan peristiwa ketika Matahari-Bumi-Jupiter berada satu garis lurus di bidang Tata Surya. Dengan begitu, peristiwa ini juga menandai jarak terdekat antara Bumi dengan Jupiter, dan membuat Jupiter berada di posisi yang baik untuk diobservasi.

Dari Indonesia, Jupiter akan terlihat dari pukul 18:22 WIB hingga keesokan hari pukul 05:26 WIB. Planet termasif di Tata Surya ini akan mencapai titik tertinggi di langit pada pukul 23:52 WIB, yakni di ketinggian 89° di atas horizon timur laut.

Planet ini bisa diamati dengan mata telanjang bagai bintang kuning yang terang. Bagi Anda yang punya teleskop, Anda akan melihat diameter sudut Jupiter yang lebih besar beserta munculnya empat satelit alami besar miliknya; Io, Kalisto, Ganimede, dan Europa.

23 April 2017: Hujan Meteor Lyrid

Setelah tidak ada peristiwa hujan meteor sejak Quadrantid di Januari, akhirnya muncul lagi peristiwa hujan meteor, yakni hujan meteor Lyrid. Hujan meteor ini akan mencapai puncaknya di tanggal ini, 23 April 2017. Namun, ia sebenarnya sudah terjadi pada rentang waktu 19-25 April. Titik radian hujan meteor ini adalah rasi bintang Lyra, dan diperkirakan akan mencapai intensitas 10 meteor per jam, dapat diamati dengan mata telanjang di seluruh Indonesia.  

6-7 Mei 2017: Hujan Meteor Eta Aquarid

Hujan meteor Lyrid pada 23 April membuka musim hujan meteor setiap tahunnya. Tak perlu menunggu waktu lama, pada 6-7 Mei akan terjadi lagi hujan meteor lainnya, yang kali ini merupakan hujan meteor Eta Aquarid.

Eta Aquarids adalah hujan meteor yang dapat memproduksi hingga 60 meteor per jam pada puncaknya. Hujan meteor yang berasal dari debu komet Halley ini terjadi pada rentang tanggal 19 April hingga 28 Mei, dan puncaknya adalah pada malam 6 Mei hingga dini hari 7 Mei. Titik radiannya adalah rasi bintang Aquarius.

15 Juni 2017: Oposisi Saturnus

Sama seperti Jupiter, karena Saturnus adalah planet luar, maka oposisi bisa terjadi setiap tahunnya. Di tahun 2017, oposisi Saturnus, atau ketika Matahari-Bumi-Saturnus berada dalam satu garis lurus akan terjadi tanggal 15 Juni.

Sang planet bercincin ini akan berada di jarak terdekat dengan Bumi dan wajahnya akan sepenuhnya diterangi oleh Matahari jika diamati dari Bumi. Dengan begitu, kenampakannya akan lebih terang, paling terang di tahun 2017.

Planet Saturnus yang beroposisi pada tanggal ini bisa diamati di seluruh Indonesia dengan mata telanjang. Sayangnya, untuk melihat cincinnya beserta satelit-satelit alami besarnya, kita membutuhkan teleskop.

21 Juni 2017: Solstis Juni

Titik balik Matahari Juni atau solstis Juni bakal terjadi pada pukul 11:24 WIB di tanggal ini. Solstis Juni menandai peristiwa ketika kutub utara Bumi yang akan lebih condong ke arah Matahari. Ini juga adalah hari pertama musim panas (summer solstice) di belahan Bumi utara dan hari pertama musim dingin (winter solstice) di belahan Bumi selatan.

29-29 Juni 2017: Hujan Meteor Delta Aquarid

Setelah Eta Aquarid pada 6-7 Mei, hujan meteor yang masih bertitik radian di rasi bintang Aquarius selanjutnya adalah Delta Aquarid. Hujan meteor ini terjadi pada rentang tanggal 12 Juli hingga 23 Agustus, namun puncaknya terjadi pada malam 28 Juli hingga dini hari 29 Juli.

Jika Anda mengamati di lokasi pengamatan yang gelap dan bebas polusi, diperkirakan akan ada 20 meteor per jam. Peristiwa hujan meteor ini dapat disaksikan di seluruh Indonesia dengan mata telanjang.

7-8 Agustus 2017: Gerhana Bulan Parsial

Sebuah peristiwa gerhana Bulan parsial akan terjadi pada 7-8 Agustus 2017. Gerhana ini terjadi ketika sebagian wajah Bulan melewati bayangan umbra Bumi, sehingga akan tampak tergigit. Gerhana ini akan terlihat jelas di sebagian besar Afrika bagian timur, Asia Tengah, Samudera Hindia, dan Australia.

Dan bahagianya kita, Indonesia kebagian untuk melihat peristiwa gerhana Bulan parsial ini! Gerhana akan dimulai ketika Bulan memasuki bayangan penumbra Bumi, yakni pukul 22:50 WIB (7 Agustus). Puncak gerhana sendiri akan terjadi pada pukul 01:20 WIB (8 Agustus). Selanjutnya, gerhana akan berakhir pukul 03:50 WIB (8 Agustus). Puncak gerhana berlangsung selama 1 jam 55 menit.

12-13 Agustus 2017: Hujan Meteor Perseid

Hujan meteor Perseid adalah salah satu hujan meteor terbaik untuk diamati. Bagaimana tidak, pada puncaknya, Perseid dapat memproduksi hingga 60 meteor per jam. Meteor-meteor yang melesat pada hujan meteor ini dihasilkan oleh debu komet Swift-Tuttle yang ditemukan pada 1862.

Setiap tahunnya, Perseid terjadi pada rentang tanggal 17 Juli hingga 24 Agustus, dan puncaknya terjadi pada malam 12 Agustus hingga dini hari 13 Agustus. Sayangnya, di tahun 2017 hujan meteor Perseid bertepatan dengan fase Bulan bungkuk, sehingga cahaya Bulan yang terang dapat meredupkan meteor-meteor kecil.

21 Agustus 2017: Gerhana Matahari Total

Sebuah peristiwa gerhana Matahari total -- ya, peristiwa yang sama seperti yang terjadi pada 9 Maret 2016 -- akan terjadi lagi pada 21 Agustus 2017. Tapi kali ini bukan Indonesia yang menjadi "tuan rumah"-nya, melainkan giliran Amerika Serikat.

Seluruh warga di AS dapat bersuka cita, sebab untuk dataran hanya wilayah AS lah yang dilalui jalur gerhana total. Jalur totalitas akan dimulai di Samudra Pasifik dan akan melalui perjalanan panjang ke pusat wilayah AS.

Gerhana total akan terlihat di negara bagian Oregon, Idaho, Wyoming, Nebraska, Missouri, Kentucky, Tennessee, North Carolina, dan Carolina Selatan, sebelum akhirnya berakhir di Samudera Atlantik. Ingin "menjemput" gerhana di AS ini? Sebaiknya booking tiket perjalanan dan hotel dari sekarang!

23 September 2017: Ekuinoks September

Sama seperti yang terjadi pada bulan Maret, di September 2017 juga akan terjadi peristiwa ekuinoks, tepatnya terjadi pada tanggal 23 pukul 03:02 WIB. Pada ekuinoks, Matahari akan bersinar langsung di atas ekuator. Ini juga merupakan hari pertama musim gugur di belahan Bumi utara dan hari pertama musim semi di belahan Bumi selatan.

7 Oktober 2017: Hujan Meteor Draconid

Hujan meteor Draconid bukan merupakan hujan meteor besar, ia termasuk hujan meteor minor yang hanya berintensitas 10 meteor per jam. Hujan meteor init terjadi pada rentang tanggal 6-10 Oktober dan puncaknya terjadi pada tengah malam sampai dini hari tanggal 7 Oktober. Titik radiannya adalah rasi bintang Draco, dan hujan meteor ini dapat diamati di seluruh Indonesia dengan mata telanjang.

21-22 Oktober 2017: Hujan Meteor Orionid

Pernah melihat tiga bintang sejajar di langit malam? Itulah rasi bintang Orion. Pada tanggal 21-22 Oktober 2017, hujan meteor akan terjadi di rasi bintang ini, hujan meteor Orionid! Diperkirakan akan tampak 20 meteor per jam saat puncaknya. Tentu bisa diamati di seluruh Indonesia dengan mata telanjang.

17-18 November 2017: Hujan Meteor Leonid

Hujan meteor lagi? Yak, betul. Hujan meteor Leonid dapat memproduksi hingga 15 meteor per jam saat puncaknya. Anda bisa mengamatinya mulai malam 17 November hingga dini hari 18 November. Titik radiannya adalah rasi bintang Leo, dan tentu bisa diamati di seluruh Indonesia dengan mata telanjang.

3 Desember 2017: Supermoon

Walaupun tak sebesar Supermoon yang terjadi pada 14 November 2016 kemarin, Supermoon pada 3 Desember 2017 ini merupakan Bulan Purnama terbesar yang terjadi sepanjang tahun 2017. Fase Purnama akan terjadi pada pukul 22:47 WIB. Bulan akan nampak lebih besar dan lebih terang daripada kenampakan Bulan di tahun 2017.

13-14 Desember 2017: Hujan Meteor Geminid

Hujan meteor Geminid adalah raja dari seluruh peristiwa hujan meteor, ia juga menjadi peristiwa hujan meteor penutup setiap tahunnya. Disebut raja hujan meteor, karena pada puncaknya Geminid dapat memproduksi hingga 120 meteor per jam.

Lesatan meteor pada hujan meteor Gemind berasal dari debu asteroid 3200 Phaethon, yang ditemukan pada tahun 1982. Hujan meteor ini terjadi pada rentang tanggal 7-17 Desember, dan puncaknya terjadi pada malam tanggal 13 Desember hingga dini hari 14 Desember. Bisa diamati di rasi bintang Gemini di seluruh Indonesia dengan mata telanjang.

21 Desember 2017: Solstis Desember

Kebalikan dari solstis Juni, solstis Desember yang terjadi pada 23:28 WIB ini menandai peristiwa ketika kutub selatan Bumi akan lebih condong ke arah Matahari. Ini adalah hari pertama musim dingin (winter solstice) di belahan Bumi utara dan hari pertama musim panas (summer solstice) di belahan Bumi selatan.

Nah, itulah 25 peristiwa langit penting dan wajib diamati yang bakal terjadi pada tahun 2017. Mana yang paling Anda tunggu?



Posted: 20 Nov 2016 08:07 PM PST
Planet Merkurius. Kredit: NASA/JPL-Caltech
Info Astronomy - Sekelompok ilmuwan keplanetan baru-baru ini telah menemukan sebuah lembah raksasa yang luas di planet Merkurius yang tampaknya menjadi bukti pertama dari terbentuknya cekungan di permukaan karena menyusutnya planet terdekat dari Matahari tersebut.

Sejak 1970-an, para astronom menduga Merkurius telah mengkerut, tapi hal tersebut baru bisa dibuktikan ketika wahana antariksa MESSENGER milik NASA mampu meneliti sang planet terkecil di Tata Surya kita tersebut. Diketahui bahwa ia telah menyusut hampir 14 kilometer selama semiliar tahun terakhir.

Para astronom sebelumnya telah menemukan bahwa kerak dan mantel atas Merkurius, yang disebut litosfer, adalah aktif secara tektonik, meskipun tidak seaktif seperti Bumi.

Analisis terbaru dari data MESSENGER mengungkapkan bahwa karena inti planet Merkurius menyusut, eksterior Merkurius mulai mengalami aktivitas aneh yang intens, yang mendorong bagian dari kerak atas namun menenggelamkan permukaan dan membentuk lembah.

Citra topografi berwarna Merkurius, jurang raksasa berwarna biru gelap pada citra ini. Kredit: NASA/MESSENGER
Lembah yang baru saja ditemukan adalah hasil dari aktivitas aneh ini. Lembah tersebut diperkirakan memiliki panjang 1.000 kilometer, lebar 400 kilometer, dan kedalaman 3 kilometer. Lembah tersebut terbentuk di wilayah cekungan Rembrandt, cekungan terbesar dan termuda di Merkurius.

Lembah raksasa di Merkurius ini terikat oleh dua tebing besar yang merupakan hasil dari mekanisme kerutan planet yang sama. Ketika wilayah permukaan tenggelam membentuk lembah, dua lereng curam bergerak naik.

Lumayan luas dan besarnya lembah di Merkurius membuat lembah tersebut lebih besar dari Grand Canyon di Bumi, lebih luas dan lebih dalam dari Great Rift Valley di Afrika Timur, tapi masih lebih kecil dari Valles Marineris, lembah terbesar, terluas dan terdalam di planet Mars.

Penelitian ini telah diterbitkan dalam Geophysical Research Letters.