Friday, November 25, 2016

Info Astronomy Tanggal 25 November 2016

Bulan Bertemu Jupiter di Langit Timur pada Jum'at Dini Hari

Letak Bulan dan Jupiter, 25 November 2016 04.00 AM. Kredit: InfoAstronomy.org
Info Astronomy - Jika sering bangun dini hari, pada Jum'at (25/11) besok kita dapat melihat Bulan Sabit yang tampak bersebelahan dengan planet Jupiter. Pemandangan dua benda langit ini dapat disaksikan di seluruh Indonesia apabila langit cerah.

Bulan Sabit dan planet Jupiter hanya akan terpisah 2° satu sama lain saat Anda mengamatinya besok dini hari. Walaupun Jupiter merupakan planet terbesar di Tata Surya, karena jaraknya yang jauuuuuuuuuuh dari Bumi, maka jika diamati dengan mata telanjang hanya akan tampak bagai titik kuning terang yang tidak berkelap-kelip.

Lain halnya apabila Anda memiliki teleskop. Selain dapat melihat Jupiter yang lebih besar lengkap dengan garis-garis atmosfernya, Anda juga bisa melihat keempat satelit alami terbesarnya; Io, Kalisto, Ganimede, dan Europa.

Dari Indonesia, Bulan Sabit dan Jupiter akan sama-sama terbit di ufuk timur pada pukul 02.29 waktu setempat daerah Anda, atau sekitar 2 jam 57 menit sebelum Matahari terbit. Saat terbaik untuk mengamatinya adalah mulai pukul 04 dini hari hingga terbit fajar sekitar pukul 05.11 waktu setempat.

Saat tampak berdekatan karena mengalami konjungsi, Bulan Sabit akan bersinar dengan magnitudo -10,6, sementara planet Jupiter dengan magnitudo -1,8. Keduanya akan sama-sama berada atau bertengger di rasi bintang Virgo.

Sayangnya, sepasang benda langit ini akan terlalu luas terpisah untuk muat dalam satu bidang pandang teleskop, tapi tetap bisa kok dilihat dengan mata telanjang atau melalui binokuler.

Semoga langit cerah, ya. Selamat observasi! 
Wahana Antariksa Cassini Bakal Menjelajahi Cincin Saturnus
Posted: 23 Nov 2016 10:55 PM PST
Saturnus dan cincinnya. Kredit: NASA/JPL-Caltech/Cassini
Info Astronomy - Wahana antariksa tanpa awak Cassini sedang mempersiapkan diri untuk misi terakhrinya di orbit Saturnus. Ia akan dibawa menyelam ke kutub utara Saturnus tahun depan. Tapi sebelum itu, Cassini akan bermanuver menjelajahi cincin utama planet termasif kedua di Tata Surya tersebut.

Cassini diluncurkan pada tahun 1997 dan telah mempelajari Saturnus beserta satelit-satelit alaminya sejak tiba di orbit sang planet bercincn pada tahun 2004. Telah banyak data dan citra menakjubkan yang dikirim ke Bumi. Di antaranya, Cassini juga menemukan lautan global pada salah satu satelit Saturnus, Enseladus, dan juga lautan metana cair Titan.

Wahana antariksa Cassini telah memasuki tahap akhir misinya mulai 30 November 2016 kemarin, dan akan benar-benar berakhir pada 15 September 2017. Sebelum April, Cassini akan menganalisis struktur cincin Saturnus, mengumpulkan sampel partikel dan molekul gas pada cincin, serta memotret cincin dari dekat.

Misi penjelajahan cincin Saturnus oleh Cassini ini akan dimulai pada bulan Desember 2016, ketika ia akan mulai melakukan pencitraan cincin A dan B, menciptakan pemindaian kualitas tertinggi dalam misi yang telah berlangsung selama 12 tahun ini.

Bagian-bagian cincin Saturnus. Kredit: Wikimedia Commons
Selanjutnya, pada Maret dan April 2017, Cassini akan terbang melalui tepi luar cincin F, yang menandai batas luar sistem cincin utama Saturnus. Cassini akan berada pada ketinggian 7.800 km di atas cincin.

Juga di bulan Maret, Cassini akan terbang melalui bayangan Saturnus dan mengamati cincin yang membelakangi Matahari untuk melihat awan debu pada cincin disebabkan oleh dampak tumbukan meteor.

Cincin Saturnus adalah sistem cincin planet yang paling luas dari planet manapun di Tata Surya. Mereka terdiri dari partikel kecil yang tak terhitung jumlahnya, mulai dari ukuran mikrometer ke meter, yang mengorbit Saturnus.

Partikel cincin yang hampir seluruhnya terbuat dari es air, dengan komponen jejak material batuan. Masih belum ada konsensus mengenai mekanisme pembentukan mereka; beberapa fitur dari cincin menunjukkan asal yang relatif baru. Tapi dengan pengamatan dari Cassini ini, nantinya kita bisa mengetahui bagaimana sebenarnya cincin Saturnus terbentuk.
Mengenal NGC 4725, Galaksi Spiral yang Hanya Punya Satu Lengan
Posted: 23 Nov 2016 06:48 PM PST
Galaksi spiral NGC 4725. Kredit: Martin Pugh
Info Astronomy - Ada beberapa jenis galaksi di alam semesta, dan yang paling umum adalah jenis galaksi spiral. Sementara sebagian besar galaksi spiral, termasuk Bimasakti, memiliki dua atau lebih lengan spiral, galaksi NGC 4725 cukup unik karena hanya memiliki satu lengan spiral. 

Dalam citra komposit tajam ini, yang dipotret oleh astrofotografer Martin Pugh, tampak satu lengan spiral milik galaksi NGC 4725 yang berwarna kebiruan, sementara warna merah merupakan gugusan bintang yang baru lahir yang juga merupakan wilayah pembentukan bintang. 

Galaksi yang unik ini juga dihiasi debu kekuningan yang menjadi struktur pusat galaksi dan terdiri dari populasi bintang yang berusia tua. Galaksi NGC 4725 ini berdiameter sekitar 100 ribu tahun cahaya, dan terletak 41 juta tahun cahaya dari Bumi di konstelasi Coma Berenices.

Belum ada yang memahami mengapa galaksi spiral ini hanya memiliki satu lengan spiral saja, tidak seperti galaksi spiral pada umumnya.

Pada prinsipnya, bentuk lengan spiral galaksi sangat mudah terbentuk. Bentuk galaksi ini seperti kincir atau roda yang memiliki lengan-lengan yang berbentuk spiral yang keluar dan seolah berkejar-kejaran dari inti galaksi yang terang.

Hal tersebut terjadi karena kecepatan sudut rotasi dari setiap piringan galaksi bervariasi dengan jarak dari pusat galaksi. Dengan kata lain, bintang-bintang yang berada lebih dekat dengan pusat galaksi akan berputar lebih cepat mengelilingi pusat galaksi daripada yang berada jauh dari pusat galaksi.